Soeharto Berziarah ke Cilacap di Malam Hari | ..::WorSKAholic..::

You are here:
Home » Sejarah » Soeharto Berziarah ke Cilacap di Malam Hari

Soeharto Berziarah ke Cilacap di Malam Hari

 

50852_475

Jauh sebelum menjadi Presiden RI ke-2, Soeharto telah mendalami ilmu kebatinan Jawa bersama Soedjono Hoemardani. Keduanya bergabung dalam ikatan persaudaraan mistikal di Sendang Titis, Dusun Semanggi, Kelurahan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY.

Di kemudian hari, setiap Suro atau tahun baru Jawa, Soedjono pergi ke Padepokan Jambe Pitu di Gunung Selok, Cilacap. Ia tidak sendiri, melainkan bersama Hoemardhani bersama Romo Dijat, guru spiritual Soeharto. “Rama Dijat yang menemukan lokasi padepokan ini, dan Soedjono yang membangunnya,” kata Dr Budyapradipta, pakar sastra Jawa Universitas Indonesia.

Soeharto sendiri tak asing dengan petilasan di Cilacap. Ia pernah berziarah ke petilasan Kiai Semar Bodronoyo atau Kaki Tunggul Sabdodadi Doyo Amongrogo, di sisi selatan Bukit Srandil. ”Dua hari sebelum kedatangan Pak Harto, lokasi kami kosongkan,” kata Adi Suwarto, juru kunci yang pernah mengantarkan Soeharto berziarah. “Dia datang malam hari dan hanya sekitar dua jam saja.”

Menurut Romo Dijat, letak geografis Jambe Pitu memiliki energi paling kuat dan sangat cocok sebagai tempat menerima dhawuh atau pesan dari leluhur. Kala Tempo ke sana, petilasan ini diteduhi pohon-pohon akasia dan ramai oleh puluhan kera. Sedangkan pintu gerbang petilasan Jambe Pitu dibangun dari batu hitam candi.

Untuk mencapai bangunan petilasan, peziarah harus melewati jalan berlantai batu hitam sepanjang 300 meter. Luas kompleks megah itu sekitar 50×30 meter. Dan tembok setinggi dua meter mengeliling kompleks bangunan.

“Di bangunan utama, berupa rumah kecil, ada foto Raden Panji Soedijat Prawirokoesoema alias Romo Dijat,” tulis artikel: Soedjono dan ‘Orde Dhawuh’, Edisi Khusus Majalah Tempo, 10 Februari 2008.

Di rumah kecil itu, Romo Dijat memberikan petuah bagi muridnya. Sementara pada bangunan lain, berbentuk rumah dengan empat kamar besar berlantai keramik warna hijau tua, Soedjono dan lingkarannya saling berdialog dengan pesan leluhur. “Semua dhawuh direkam dan dicatat, bahkan diterbitkan sebagai buku kumpulan dhawuh yang diedarkan di kalangan terbatas,” kata Budyapradipta.

Sumber : Tempo

     

Leave a Reply to this Post

Mar
31
2013
 
 
..::WorSKAholic..:: Search form
Recent Comments
  • track macros: Hi there! Thhis post could not be written anny better! Going through thiss artcle reminds me of my...
  • carb cycling: Wow, that’s what I was exploring for, what a data! present here at this weblog, thanks admin of...
  • 7 best supplements for mens: Attractive section of content. I just stumbled upon your web site and in accession...
  • broscience.com: Hello would youu mind letting me know which web host you’re working with? I’ve loadded...
  • BroScience.com: It’s realkly a cool and useful piece of information. I am satisfied that you simply shared tuis...
Family
Friends
Free counters!

PING  |  PING  |  PING